MENINGKATKAN
PERAN DAN KINERJA KOPERASI
BELAJAR
DARI NEGARA-NEGARA EROPA
Menteri
Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Suryadharma Ali, mengatakan
masyarakat koperasi bertekad dan berkeinginan untuk meningkatkan peran dan
kontribusi terhadap ketahanan perekonomian nasional dalam dinamika perubahan
global, dengan lebih bersungguh-sungguh meningkatkan kualitas koperasi secara
nasional agar menjadi badan usaha yang tangguh, kuat, dan profesional di
berbagai sektor sehingga mampu memenuhi kepentingan ekonomi anggota dan
masyarakat lingkungannya.
Berdasarkan
berbagai fenomena perkoperasian yang terjadi saat ini, banyak paradigma yang sudah
menyimpang dari prinsip dasar perkoperasian. Maka dibutuhkan reorientasi
paradigma agar koperasi bisa kembali menjadi jati dirinya dengan nilai-nilai
dan dasar koperasi yang melandasinya. Berikut merupakan beberapa cara yang
sudah maupun akan ditempuh untuk memajukan koperasi di Indonesia.
1.
Pendidikan anggota koperasi.
2.
Kerjasama diantara koperasi.
3.
Tidak hanya mengandalkan bantuan dari pemerintah.
4.
Pengembangan sistem manajemen koperasi.
5.
Perencanaan strategis.
6.
Adanya data, informasi dan analisis kinerja dari koperasi yang kemudian dapat
dijadikan sebagai bahan evaluasi.
7.
Menciptakan peluang pasar yang sebesar-besarnya bagi para petani denga
menjadikan pasar dalam negeri sebagai pasar utama pertanian di Indonesia.
8.
Meningkatkan kecintaan masyarakat indonesia akan produk-produk dalam negeri
dengan cara meningkatkan kualitas produk dari koperasi agar tidak kalah saing
dengan pasaran luar negeri yang masuk ke Indonesia.
9.
Menteri Koperasi dan UKM Sjarifuddin Hasan menyatakan akan memprogramkan dan
membentuk tim penyuluh koperasi untuk merespon usulan revitalisasi koperasi
yang disampaikan oleh Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin).
10.
Adanya sistem saham dalam koperasi.
11.
Pengembangan agrowisata berbasis koperasi.
12.
Peterson (2005), mengatakan bahwa koperasi harus memiliki keunggulan-keunggulan
kompetitif dibandingkan organisasi-organisasi bisnis lainnya untuk bisa menang
dalam persaingan di dalam era globalisasi dan perdagangan bebas saat ini.
13.
Terlibat aktif dalam produk-produk yang mempunyai tren-tren yang meningkat atau
prospek yang bagus.
14.
Selalu memberikan informasi yang lengkap dan up to date kepada
anggota-anggotanya sehingga mereka tetap terlibat dan suportif
15.
Menurut Anderson dan Henehan (2003), manajemen dan direktur yang efektif dalam
arti cepat mengambil suatu keputusan yang tepat dalam merespons terhadap
perkembangan-perkembangan bisnis terkait (misalnya perubahan pasar atau
masuknya pesaing-pesaing baru) sangat menentukan keberhasilan suatu koperasi.
Mereka harus memastikan bahwa dengan langkah-langkah yang cepat koperasi mereka
bisa mendapatkan keberhasilan-keberhasilan yang maksimum
16.
Vandeburg, dkk. (2000) menemukan banyak manajer-manajer koperasi lokal
melakukan perubahan struktural dengan cara bergabung, akuisisi, bekerja sama,
dan melakukan aliansi strategis dengan koperasi-koperasi lainnya atau dengan
perusahaan-perusahaan berorientasi investor.
17.
Pemilik atau dewan direktur bisa memimpin dengan baik (dewan direktur yang
lebih banyak diambil dari luar bisa menaikkan kemampuannya untuk membuat
keputusan-keputusan strategis)
18.
Memperbaiki kinerja manajemen, dewan direktur dan organisasi koperasi untuk
meningkatkan kepuasan anggota
19.
Pada tahun 2004, KPSBU mengambil lagi beberapa langkah penting yang boleh
dikatakan cukup inovatif. Pertama, mulai mewajibkan pendidikan dasar koperasi
bagi anggota-anggotanya
20.
Tahun 2005, KPSBU kembali mengambil langkah-langkah positif untuk meningkatkan
kinerja. Langkah-langkah terpenting adalah perubahan struktur organisasi dan
menerapkan dua macam insentif, yakni insentif manajerial melalui proses dan
insentif manajerial melalui hasil.
21.
Menurut Alm. Prof. Sumitro Djojohadikusumo (dalam Rahardjo, 2002) bahwa
pengembangan koperasi di pedesaan perlu didahului dengan pembangunan ekonomi
yang menciptakan lapangan kerja dan penghasilan. Dari situlah koperasi dapat
menghimpun tabungan.
KOPERASI
DI NEGARA-NEGARA EROPA
Di
Eropa koperasi tumbuh terutama melalui koperasi kredit dan koperasi konsumen
yang kuat hingga disegani oleh berbagai kekuatan. Di perdagangan ritel,
koperasi-koperasi konsumsi merupakan pionir dari penciptaan rantai perdagangan
ritel modern (Furlough dan Strikwerda, 1999). Di sektor perbankan di
negara-negara seperti Perancis, Austria, Finlandia dan Siprus, menurut data ICA
(1998a), pangsa pasar dari bank-bank koperasi mencapai sekitar 1/3 dari total
bank yang ada. Bahkan 2 (dua) bank terbesar di Eropa milik koperasi yakni “Credit
Agricole” di Perancis dan RABO-Bank di Netherlands. Kredit sebagai kebutuhan
universal bagi umat manusia terlepas dari kedudukannya sebagai produsen maupun
konsumen dan penerima penghasilan tetap atau bukan adalah anggota potensial
dari koperasi kredit (Soetrisno, 2001).
JERMAN
Sekitar
20 juta orang (atau 1 dari 4 orang) adalah anggota koperasi, dan koperasi yang
jumlahnya mencapai 8106 unit telah memberikan kontribusi nyata bagi
perekonomian negara tersebut, diantaranya menciptakan kesempatan kerja untuk
440 ribu orang. Salah satu sektor dimana koperasi sangat besar perannya adalah
perbankan. Misalnya, bank koperasi Raifaissen sangat maju dan penting
peranannya, dengan kantor-kantor cabangnya di kota maupun desa. Pada tahun
1995, ada dua koperasi dari Jerman yang masuk 20 koperasi pertanian terbesar di
UE, yakni Baywa (fungsi multi) dengan penghasilan 3.542 juta ecu dan
mengerjakan 10794 orang, dan RHG (fungsi multi) dengan penghasilan 1.790 juta
ecu, 260 anggota, dan 2.946 pekerja.
INGGRIS
Diperkirakan
sekitar 9,8 juta orang adalah anggota koperasi, dan pertanian merupakan sektor
di mana peran koperasi sangat besar. Sektor lainnya adalah pariwisata. Biro
perjalanan swasta terbesar di negara itu adalah sebuah koperasi. Pada tahun
1995, Milk Marque, koperasi produk-produk susu, masuk 20 koperasi pertanian
terbesar di UE, dengan omset mencapai 2.393.000.000 ecu, dengan jumlah anggota
tercatat sebanyak 18 ribu orang dan memberi kesempatan kerja ke 300 orang.
Sedangkan di Irlandia, koperasi-koperasi pertaniannya yang juga masuk di dalam
kelompok besar tersebut adalah The Irish Dairy Board (jumlah anggota: 71),
Avonmore (13245), dan Kerry Group (6000) yang semuanya di bidang produksi susu
dengan omset antara 1.463,3 juta ecu hingga 1.523,3 juta ecu. Jumlah kesempatan
kerja yang diciptakan oleh ketiga koperasi susu tersebut mencapai antara 2010
hingga 6426 orang.[1]
PERANCIS
Jumlah
koperasi tercatat sebanyak 21 ribu unit yang memberi pekerjaan kepada 700 ribu
orang, sedangkan di Italia terdapat 70400 koperasi yang mengerjakan hampir 1
juta orang pada tahun 2005. Pada tahun 1995 berdasarkan omset tahunannya, tiga
koperasi di Perancis masuk 20 koperasi pertanian terbesar di EU, yakni Sodiaal
untuk produk-produk susu dengan omset hampir mencapai 2,6 miliar ecu, Socopa
untuk daging dengan 1,99 miliar ecu, dan UNCAA untuk input-input dan
produk-produk daging dengan omset 1.527.900 ribu ecu.
BELANDA
Walaupun
negaranya sangat kecil, tetapi koperasinya sangat maju. Salah satu adalah Rabo
Bank milik koperasi yang adalah bank ketiga terbesar dan konon bank ke 13
terbesar di dunia. Contoh lain adalah perdagangan bunga. Mayoritas perdagangan
bunga di negara ini digerakkan oleh koperasi bunga yang dimiliki oleh para
petani setempat. Belanda juga punya banyak koperasi yang berkecimpung di sektor
pertanian yang masuk 20 koperasi pertanian terbesar di UE, yakni Campina
Melkunie (produk-produk susu), Cebeco Handelsrand (input dan produksi
pertanian), Friesland Dairy Foods (produk-produk susu), Coberco (produk-produk
susu), Demeco (daging), dan Greenery/VTN (buah-buahan dan sayur-sayuran),
dengan penghasilan paling kecil 1,346 miliar ecu (VTN) hingga terbesar 3.1
miliar ecu (Campina), jumlah anggota paling sedikit 50 orang (Cebeco) dan
terbanyak 17850 orang (VTN) dan jumlah pekerja paling sedikit 3000 orang
(Dumeco) dan terbanyak 7490 orang (Friesland). Di negara tetangganya Belgia,
pada tahun 2001 tercatat jumlah koperasi mencapai 29.933 unit, dan koperasi
farmasinya memiliki pangsa pasar sekitar 19,5%.
NEGARA-NEGARA
EROPA TIMUR
Misalnya,
di Hongaria, koperasi-koperasi konsumen bertanggung jawab terhadap 14,4% dari
makanan nasional dan penjualan-penjualan eceran umum pada tahun 2004. Di
Polandia, koperasi-koperasi susu bertanggung jawab untuk 75% dari produksi susu
di dalam negeri. Di Slovenia, koperasi-koperasi pertanian bertanggung jawab
untuk 72% dari produksi susu, 79% dari sapi, 45% dari gandum, dan 77% dari
produksi kentang. Di Slovakia, terdapat lebih dari 700 koperasi yang
mengerjakan hampir 75 ribu orang
Sumber :